Home > Catatan Mahasiswa Kedokteran > Hukum Transplantasi Organ

Hukum Transplantasi Organ

Sejauh ini Ilmu kedokteran telah berkembang dengan sangat pesat, manfaatnya-pun bisa kita rasakan sekarang. Kalau menengok jauh kebelakang, sebelum jaman ditemukannya anestesi misalnya, seorang pasien yang akan dioperasi harus diikat tangan dan kakinya diatas meja operasi. Tepat di bawah meja ditaburi pasir agar darah yang keluar tidak banyak tercecer ke laintai. Coba banyangkan betapa sakitnya perut yang dirobek dengan pisau bedah, sementara pasien dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Tanpa anestesi (obat bius) manusia mana yang dapat menahan rasa sakit diobok-obok perutnya seperti itu? Hal inilah mengapa pada jaman dulu, hampir seratus persen pasien yang dioperasi akan meninggal.

Namun berkat perkembangan teknologi kedokteran dan semakin bertambahnya pengetahuan kita tentang manusia beserta organ dalamnya, angka mortalitas & morbiditas pun dari tahun ke tahun dapat menurun.

Saat ini, berbagai teknik terapi terus dikembangkan dengan tujuan untuk memperpanjang harapan hidup pasien selain itu juga memberikan kenyamanan bagi pasien saat dilakukannya terapi. Salah satu teknik terapi yang sudah dikenal luas oleh masyarakat adalah transplantasi organ. Pada kesempatan ini akan coba saya bahas apa itu transplantasi organ sampai bagaimana hukumnya dalam islam.

Transplantasi organ merupakan tindakan menanam bagian tubuh manusia ke tempat lain, bisa dari satu manusia itu sendiri. Dengan kata lain mengambil organ atau jaringan tubuhnya sendiri kemudian ditanam dibagian lain tubuhnya, tindakan ini dinamakan autotransplantasi. Bisa juga dari satu manusia ke manusia lain atau dikenal dengan istilah homotransplantasi. Atau dilakukan antar spesies, misalnya dari hewan ke manusia dikenal dengan heterotransplantasi.

Menurut cholil umam (1994), pencangkokan adalah memindahkan organ tubuh yang masih berfungsi dengan baik untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak dapat berfungi dengan baik, meskipun telah dilakukan tindakan medis biasa.

Tindakan transplantasi pertama kali dilakukan pada tahun 600 SM di India, seorang ahli bedah beragama hindu berhasil memperbaiki hidung seorang tahanan yang cacat akibat siksaan dengan cara transplantasi jaringan kulit dan jaringan lemak yang diambil dari lengannya. Kemudian tindakan transplantasi pun dilakukan diberbagai belahan dunia sampai sekarang ini.

Pada awal perkembangannya, transplantasi organ menemui hambatan. Pada kasus seorang yang mengalami gagal ginjal kronik misalnya, sepanjang hidupnya harus dilakukan terapi hemodialisa sebagai pengganti fungi ginjal. Sebab ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang paling ajaib dan memiliki banyak fungi, salah satunya adalah mensekresi racun lewat urin dari sisa metabolisme tubuh. Kalu ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, racun akan semakin terakumulasi dan jika kadarnya melebihi ambang batas maka sangat membahayakan tubuh. Kelemahan teknik ini yaitu hemodialisa dilakukan sepanjang umur, dengan pertimbangan biaya pula, maka alternatif lain harus dipikirkan.

Akhirnya dilakukanlah transplantasi organ (ginjal), diambil dari pendonor yaitu seorang yang telah memberikan persetujuannya untuk diambil organnya kemudian dicangkokkan ke tubuh orang yang membutuhkan. Hambatannya adalah berupa, ada mekanisme imunologi dalam tubuh. Artinya apapun yang tidak milik tubuh kita, akan dianggap sebagai benda asing, walaupun itu bentuknya sama dengan apa yang tubuh kita miliki, dalam kasus ini organ ginjal. Sehingga timbullah reaksi penolakan. Makanya pada awal perkembangan tranplantasi, memang tindakan transplantasi organ itu sendiri telah berhasil dengan baik, namun tidak lama kemudian pasien meninggal.

Berkat pemahaman kita yang semakin berkembang tentang reaksi imunologi tersebut, akhirnya ada solusi : setelah pencangkokan organ dikerjakan diberikan obat imunosupresan yaitu obat yang berfungsi  menekan reaksi penolakan oleh tubuh pasien terhadap benda yang dianggapnya asing, sampai dikenali bukan sebagai benda asing lagi.

Barulah transplantasi dapat dijadikan sebagai alternatif terapi yang lebih baik.

Berbagai organ yang telah berhasil ditransplantasikan sampai saat ini adalah kornea mata, paru-paru, jantung dan katub jantung, hati, pankreas, usus, vena paha, kulit, tulang dan tendon.

Masalah tidak berhenti sampai disitu saja, terutama sekali muncul masalah etik seperti apakah organ donor bisa diperjual belikan? lalu bagaimana dengan hak pendonor untuk hidup sempurna dengan organ lengkap–ambil contoh kasus donor ginjal– meskipun tubuh kita dapat bertahan hidup hanya dengan satu ginjal saja? kemudian bagaimana dengan organ orang yang sudah meninggal, apakah boleh didonorkan? semua masalah diatas perlu ditelaah dengan kajian majelis etik yang terdiri dari, dokter, pakar agama, pakar hukum, atau pakar ilmu sosial.

Atas dasar itu lahirlah suatu aturan baku yang mengatur tindakan translantasi organ di Indonesia yaitu Undang-undang kesehatan No 36 tahun 2009 tentang transplantasi.

Berikut poin-poinnya,

  1. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk mengembalikan status kesehatan, mengembalikan fungsi tubuh akibat penyakit dan atau akibat cacat atau menghilangkan cacat
  2. Dilakukan dg pengendalian, pengobatan dan atau perawatan
  3. Berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dipertanggung jawabkan manfaat dan keamanannya
  4. Dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yg mempunyai keahlian dan kewenangan

Lalu, bagaimanakah menurut hukum islam?

Meskipun pencangkokan organ belum dikenal pada masa Nabi Muhammad saw hidup, namun bedah plastik yang menggunakan organ palsu atau buatan telah dilakukan pada masa itu. sebagaimana yang diriwayatkan Imam Abu Daud dan Tirmidzi dari Abdurrahman bin Tharfah (Sunan Abu Dawud, hadits. no.4232) “bahwa kakeknya ‘Arfajah bin As’ad pernah terpotong hidungnya pada perang Kulab, lalu ia memasang hidung (palsu) dari logam perak, namun hidung tersebut mulai membau (membusuk), maka Nabi saw. menyuruhnya untuk memasang hidung (palsu) dari logam emas”. Imam Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya (III/58) juga telah meriwayatkan dari Waqid bin Abi Yaser bahwa ‘Utsman (bin ‘Affan) pernah memasang mahkota gigi dari emas, supaya giginya lebih kuat (tahan lama).

Hadist diatas juga menjadi dasar diperbolehkannya tindakan transplantasi organ dalam Islam, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut. Berdasarkan keputusan syuriah NU disimpulkan bahwa transplantasi organ boleh dilakukan kecuali jika dikomersilkan (jual beli organ) hukumnya menjadi haram. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama maka memberikan apa yang ada pada diri kita kepada orang lain yang membutuhkan adalah tindakan mulia. Lantas bagaimanakah hukum mencangkok organ dari manusia yang sudah mati ke manusia hidup? hal itu juga diperbolehkan dengan catatan sebelum mati orang tersebut memberikan persetujuan untuk menyumbangkan organnya kepada yang membutuhkan.

Secara medis ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk melakukan donor organ tersebut.  Diantaranya adalah memiliki DNA, golongan darah, jenis antigen yang cocok anatara donor dan resipien, sehingga tidak terjadi reaksi penolakan secara antigen dan antibodi oleh resipien. Selain itu harus dipastikan apakah sirkulasi, perfusi dan metabolisme organ masih berjalan dengan baik dan belum mengalami kematian (nekrosis). Sementara pendonor  sendiri bisa dari orang yang masih hidup atau dari orang yang sudah mati. Seseorang dikatakan mati apabila dipastikan telah mati batang otak.

Demikian, informasi yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat. Amin.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: