Home > Catatan Mahasiswa Kedokteran > Pre-eklamsia & Eklamsia Pada Kehamilan

Pre-eklamsia & Eklamsia Pada Kehamilan

November 23, 2011

Dahulu disebut toksemia gravidarum, namun istilah tersebut kurang tepat karena toksemia gravidarum merupakan hipertensi pada kehamilan dengan etiologi berbeda. Sampai sekarang belum juga dibuktikan adanya toksin sebagai penyebab.

Maka digunakanlah istilah pre-eklamsia. Definisinya adalah penyakit pada kehamilan lebih dari 20 minggu dengan tanda khas hipertensi, oedem, dan proteinuria. Eklamsia dan pre-eklamsia tidak banyak berbeda pada kelainan anatomik pasien, hal ini dilihat melalui laborat pada pasien yang meninggal akibat ekalmsia.
Untuk menggambarkan perbedaan antara keduanya, adalah ibaratkan tangga. Eklamsia merupakan stadium lanjut daripada pre-ekalmsia ringan dan berat. Baik pre-ekalmsia maupun eklamsia keduanya memiliki tanda yang hampir sama yang saya sebut sebagai Trio-Pre-Eklamsia yaitu seperti yang telah saya kemukaan diatas hipertensi, oedem, dan proteinuria. Namun dikatakan menjadi eklamsia apabila disertai dengan kejang.

Pre-eklamsia dibagi menjadi 2

1. Pre-ekalmsia ringan yaitu bila dalam pengukuran tekanan darah didapatkan 140/90 mmHg disertai oedem dan proteinuria
2. Pre-eklamsia berat bila tekanan darah meningkat baik sistole maupun diastole dengan kenaikan sebesar 30 mmHg atau 160/110 mmHg disertai dengan protenuria dan oedem.

Pre-Eklamsia dikatakan berat apabila ditemukan satu atau lebih tanda-tanda dibawah ini

  • T : 160/110 mmHg atau lebih
  •  Kadar protein 5 gr/L atau lebih dalam 24 jam atau protein kualitatif > 3
  •  Oligouria; kurang dari sama dengan 400 cc dalam 24 jam.
  •  Terjadi gangguan serebral seperti gangguan penglihatan dan nyeri epigastrium
  •  Terjadi oedem paru atau sianosis

Sampai saat ini etiologi terjadinya pre-eklamsia belum jelas. Banyak teori yang mencoba menjelaskan namun belum juga memuaskan. Namun ada satu teori yang lebih bisa diterima semua pihak. Adalah teori vaskular.

Pada Ibu hamil yang mengalami pre-eklamsia mengalami kerusakan endotel hampir diseluruh pembuluh darah. Sebab kerukasan endotel belum jelas juga namun beberapa ahli mengungkapkan bahwa akibat janin kekurangan nutrisi akibatnya janin mengeluarkan protein bersifat toksik bagi endotel melalui plasenta. Hal ini menyebabkan kekuan endotel sehingga timbulah hipertensi. Bagi kebanyakan kasus pre-eklamsia hipertensi mengawali gejala khas lainnya.

Akibat yang ditimbulkan terjadi perubahan fisiologi pada berbagai organ tubuh
1. Perubahan plasenta dan uterus yang mengganggu pertumbuhan janin
2. Perubahan pada ginjal  gagal ginjal
3. Pada retina : tampak oedem, spasme retina mengakibatkan perdarahan, perlu diingat bahwa spasme retina menunjukkan pre-eklamsia berat. Kalau sampai terjadi ablatio (penglepasan) retina maka bisa buta mendadak.
4. Paru-paru : oedem paru-paru. Merupakan penyebab utama kematian.

Primigavida (hamil pertama kali) lebih sering terjadi pre-eklamsia daripada multigravida, selain itu diabetes, kehamilan ganda, dan umur pada saat hamil lebih dari 35 tahun merupakan faktor resiko.

Diagnosis dapat ditegakkan apabila terjadi 2 dari tiga tanda hipertensi, proteinuria dan oedem. Apabila sebelumnya hipertensi kronis saat hamil mengalami pre-eklamsia disebut sebagai super-imposed pre-eklamsia.

Pre-eklamsia dapat ditangani dengan mengontrol tekanan darah supaya tidak terlalu tinggi dan mencegah agar tidak terjadi eklamsia. Dikatakan eklamsia apabila disertai dengan kejang. Kalau kondisi ini terjadi maka prognosis untuk Ibu hamil maupun janin menjadi sangat buruk.

Dengan ANC (ante-natal care) yang teratur dan teliti pada ibu hamil, tanda-tanda pre-eklamsia dapat dideteksi lebih dini sehingga kemungkinan buruk yang terjadi bisa dicegah.

Pengobatan hendaknya dilakukan untuk mengobati simptom sebab etiologi belum diketahui benar. Namun perlu diingat pada kasus pre-eklamsia jangan diberikan obat anti-hipertensi dan diuretik.
Sebab obat anti-hipertensi hanya dapat memanipulasi tanda-tanda apabila terjadi pre-eklamsia berat ataupun eklamsia. Dikhawatirkan penanganan tidak bisa maksimal dan kadaan ini semakin memeperburuk keadaan.

Obat diuretik tidak boleh diberikan kecuali dengan indikasi oedem pulmonal, gagal jantung kongestif dan eodem anasarka. Apabila tidak ada indikasi tersebut obat diuretik hendaknya tidak diberikan. Karena hipertensi pada pre-eklamsia justru sedikit plasma didalam vaskulernya.

Tujuan penanganan pre-eklamsia yaitu untuk mencegah terjadinya pre-eklamsia berat dan eklamsi, melahirkan janin hidup dengan truma sekecil-kecilnya. Penanganan obstetrik dilakukan dengan prinsip mengakhiri kehamilan atau mempercepat kehamilan dengan cara yang aman, namun harus diperhatikan bayi sudah aterm atau sudah siap hidup diluar lingkungan uterus, misalnya umur kehamilan sudah mencapai 37 minggu atau lebih. Namun juga bila umur kehamilan terlalu tua katakanlah 43 minggu keataas bisa dikhawatirkan terjadi degenerasi plasenta sehingga bisa terjadi kematian pada janin.

-Terima Kasih-
-Indahnya Berbagi-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: